Selasa, 17 Februari 2009

Maya

Maya
Episode I

Denting-denting jam berbunyi pelan. Melihat malam melintasi sepi. Kumendang hiruk pikuk indahnya bulan dan bintang menerangi malam sepi. Gongonggan anjing menjadi teman bercanda. Pohon-pohon tertawa terdiam mengikuti irama malam. Kendaraan yang saling berkejaran menghapus jejak kerisauan. Kutersenyum sambil menunduk malu-malu. Goresan bintang berlarian di angkasa. Gerombolan angin datang menyerang, kemudian kuberpaling kedinginan. Kain-kain tebal berjalan menghalau dan melumpuhkan hempasan angin. Nyamuk-nyamuk menjadi teman seperjuangan. Inilah malam kuberharap dan menantikan Sang Maya datang padaku.

Everytime, everinight selalu berjalan berdampingan mengisi kekosonganku. Maya, siapakah sebenarnya dirimu, akupun tidak tahu apa maya itu sebenarnya. Mungkinkah Maya itu memang ada, atau hanya sebatas khayalanku saja. Mungkinkah dia berada jauh, jauh dan jauh disana. Mungkinkah aku harus mencari, mencari dan mencari tetapi sampai kapan, kapan dan kapan aku akan menemukannya, ataukah mungkin aku tidak akan menemukan Mayaku. Akankah malam-malam sepiku berlalu seperti angin lewat tanpa seorang Maya. Duniaku akan terus gelap dan kosong, meskipun kalian semua memegang dan menyentuhku, kutakkan merasakan apapun.

Maya hanyalah sesosok manusia yang telah diciptakan Tuhan untukku. Sosok lainnya mungkin sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Tetapi melalui sosoknya yang ini, apakah Maya yang aku nantikan benar-benar ada. Akupun yakin dan optimis bahwa Maya benar ada dan Tuhan telah menciptakannya untukku.
Dari berbagai sosok manusia yang ada, tetapi tidak satupun aku mendapatkan sosok Maya yang aku nantikan. Mungkin sosok Maya ini bisa tertuju pada orang yang tak aku kenal, orang yang pertama kali aku kenal, teman atau bahkan sahabat, yang jelas aku tidak akan tahu sama sekali.

Siang itu, entah di mana tempatnya aku melihat sesosok manusia yang belum aku kenal. Saat itu aku mempunyai urusan penting, kebetulan kami berada di tempat yang sama dalam satu urusan yang sama. Secara tidak sengaja kami berkenalan untuk pertama kalinya. Akupun hanya tahu nama dan di mana dia sekolah saja.

Karena penasaran, sedikit demi sedikit aku telusuri identitasnya dan telah mendapatkan banyak informasi yang telah aku dapatkan tentang dia. Akupun sering termenung di malam harinya setelah orang-orang telah berada dalam mimpinya. Entah dari arah mana, kamipun bertemu kembali dan untuk kedua kalinya kami mengobrol langsung karena mengalami urusan yang sama, kamipun bertukar nomor HP, siapa tahu nanti ada sesuatu urusan yang mungkin sama, sehingga akan lebih mudah apabila saling tukar pikiran.

Entah keseringan saling tukar pikiran, aku merasa ada yang aneh dalam diriku. Tidak tahu kenapa kalau tidak bertukar pikiran rasanya aku menjadi ada yang kurang. Malahan kami sudah saling cerita satu sama lain. Dari cerita-cerita ini, aku sudah mulai ragu dan merasa sedikit kecewa, karena mungkin dia mempunyai seseorang yang lebih daripada aku.

Aku hanya berharap sesuatu yang tak mungkin, mustahil (imposibble) atau bahkan tidak pantas berharap lebih darinya. Apakah aku tetap menyimpan khayalanku tentang Maya, ataukah aku tetap meneruskan perjuangan, walaupun aku dan Maya tidak akan bersatu. Biarlah sepi menjadi teman pendampingku, teman curhatku atau bahkan teman dalam tidur panjangku.

Sosok yang aku lihat dan aku ajak ngobrol, mungkin Maya yang aku cari, tapi apakah itu benar?????? Akankah Maya yang telah kutemukan mau menerimaku apa adanya dengan segenap hatinya. Diterima atau tidak, hanyalah rasa penasaran yang ingin terus mengetahui keputusannya.

Suatu hari aku melihat dia bersama seseorang yang belum aku kenal, mungkin dialah pilihan dia. Api-api kegelisahan membakar egoku, seakan dia telah menjadi milik orang lain, tapi tidak apalah. Aku harus tetap tegar, tidak boleh putus asa, walaupun dia yang telah lama aku nantikan jatuh kepelukan orang lain. Kini setitik cahaya yang menerangi kegelapanku kembali redup atau mungkin akan padam.

Aku sadar, aku tidak boleh mengharapkan sesuatu darinya, justru sesuatu itu yang ada padaku harus kuberikan kepadanya dengan sepenuh hati. Dia yang tak bisa kusebutkan namanya melalui hari-harinya dengan canda dan gembira. Semakin aku melihat, mendengar, dan berbicara dengannya, maka dia bak memberi spirit kehidupan untuk tetap terus menunggu, menunggu, dan menunggu akankah benar sosok Maya yang aku tunggu akan datang padaku. Hingga perhentian terakhir dalam tidur yang sepi dan dingin, Maya .........
Maya
Episode II

Hari-hari dan bulan-bulan berjalan berdampingan melewati waktu yang tak kunjung henti. Aku masih saja tetap disini, terdiam, termenung, terkatung-katung menantikan Maya dan Maya.

Malam pun tiba, hembusan angin dingin semakin menambah kegelisahanku. Aku lelah, aku capek, akupun ingin tidur. Kumelihat sekeliling, orang-orang yang ribut kedengaran seperti diam membisu. Kasur dan bantal guling telah terbayang dibenakku. Mereka telah menungguku untuk segera melayani mereka.

Akupun terlelap dalam heningnya malam. Roda-roda waktu berputar bagaikan angin. Tapi aku masih melayang-layang dalam mimpi dan khayalanku. Tiba-tiba aku merasa sangat begitu aneh malam itu.

Bagaimana tidak seorang wanita telah datang dalam mimpiku yang menyapa seakan aku pernah kenal dengan dia. Dan pada saat itu orang-orang di sekelilingku mengejek akan seluruh kekuranganku, tetapi sang wanita ini datang menggenggamku dengan eratnya. Hatiku pun semakin aneh saat itu. Tidak hanya itu tiba-tiba dia memelukku dengan eratnya, tapi sayangnya aku tidak melihat wajahnya.

Setelah bangun aku berusaha untuk mengingat wajahnya, tetapi tidak ada sedikitpun bayangan tentang wajahnya. Aku merasa bahwa dia adalah Mayaku. Meskipun cuma dalam mimpi, pelukan yang dia berikan kepadaku seakan nyata, rasanya pun berbeda dan mungkin satu-satunya pelukan yang tidak akan ada samanya, bagaikan dia adalah Maya yang telah lama kunantikan, kurindukan, kukhayalkan.

Akhirnya akupun berkeyakinan bahwa Maya yang selalu sebut-sebut namanya benar-benar ada, nyata, dan mudah kesan khayalanku saja. Aku pun akan terus mencarinya. Semoga Tuhan memberiku isyarat akan wajahnya dan namanya. Semoga aku mengalami mimpi yang bisa aku mengungkapkan identitas Mayaku ini.

Walaupun nanti aku menemukannya dan dia benar-benar Mayaku, akupun berharap dia mau menerima aku apa adanya dan menjadi pendamping hidupku di dunia maupun di akhirat.

Buat Maya :
Maya aku telah lama menantikanmu, merindukanmu, menyukaimu, mencintaimu. Kelak jika aku menemukanmu, aku akan mengungkapkan isi hatiku, meskipun maut menghalanginya. Tidak peduli siapa dirimu, mau kaya miskin, mau jahat atau baik. Yang jelasnya jika aku menemukanmu kelak aku akan mencintamu selama-lamanya.

Untukmu Maya, cintaku yang sebenarnya tidak seorangpun yang bisa mengungkapkannya dengan kata-kata dan tak terpikirkan oleh manusia biasa. Dan hanya Tuhan yang tahu segala-galanya.

Maya
Episode III

Mimpi-mimpi hanyalah sekedar mimpi, apakah aku bermimpi di dalam mimpi, dan mungkinkah mimpiku hanyalah mimpi yang akan terus bermimpi sampai aku tidak akan bermimpi lagi. Akankah engkau menjadi kekasih gelapku yang hanya selalu terbayang di dalam mimpiku. Meski sekalipun engkau menjadi seorang permaisuri atau bahkan wanita yang tak terkhayalkan. Maya... Maya... dan Maya...!!! Aku hanya bisa memanggil engkau Maya. Apakah aku sudah mengenalmu ataukah aku tidak pernah mengenalmu sama sekali. Meski pesona dunia datang menjelma, tidak akan mampu melawan membelokkan hatiku yang hanya tertuju pada Maya...Maya...dan Maya dan selamanya akan tertuju pada Maya.
Akupun tersadar dari mimpiku yang panjang, mungkinkah aku benar-benar sadar, ataukah aku hanya kembali bermimpi di dalam mimpiku. Akupun tidak menyadari hal tersebut, hingga kumulai bangunkan diriku dari mimpi yang selalu bermimpi sampai tiba saatnya akupun berani mengatakan ungkapan isi hatiku kepada sosok wanita yang boleh dikata baru kenal atau bahkan aku telah kenal lamanya dengannya. Tetapi melalui kata-kata yang belum pernah aku keluarkan, aku merasa kurang yakin apakah sosok wanita ini yang aku anggap Maya.... bersedia menerima aku apa adanya.
Rasa gelisah, cemas, dan khawatir telah bercampur aduk menjadi satu.... Hingga jawaban sosok wanita ini seakan menjawab seluruh problematika jiwa serta membuat hatiku tidak mampu untuk diterjemahkan.
Maya...Maya...Maya...terima kasih dikau rela menerima aku apa adanya dan setulus hati. Tuhan memang Maha Adil yang telah menciptakan Maya buatku dan walaupun aku diberi kekosongan hidup tetapi berkat kehadiran Maya hidupku pun dialiri dengan kemilauan warna.
Tuhan terima kasih karena telah menciptakan Maya dan meluluhkan hati Maya sehingga mau menerima aku apa adanya. I Very Love U Maya, I Very Miss U Maya. Setiap getaran hatiku melambangkan rasa cinta dan sayangku kepada Maya.
Aku rela melakukan apapun buat Maya meski maut menjadi penghalangnya dan apapun yang terjadi cinta ini akan selalu menjadi milik Maya.
Maya yang tersayang, mungkinkah dikau kelak membaca, mendengar atau bahkan merasakan ungkapan hatiku yang paling dalam, mungkinkah dikau menjadi pendamping hidupku selamanya. Mungkinkah engkau mencintai aku seperti aku mencintai dikau Maya atau bahkan lebih atau tidak sama sekali.
Tapi itu semua tidaklah penting, cukup dengan memberikan cintaku kepada Maya, rasanya aku tidak akan pernah kesepian lagi. Kumulai kembali hidup baru, senyum bahagia, bahkan hatiku kembali telah tersirami oleh air yang paling menyejukkan hati.
Maya terima kasih Maya....!!!Maya....aku tidak akan pernah menyakiti hatimu....melukaimu...atau bahkan membuatmu menangis.
Aku akan terus membuatmu bahagia.
I Very Love U, I Very Miss U Mayaku yang paling cantik, paling manis, paling aku sayangi yang tidak akan ada penggantinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar